Konsep Ergonomik dan Kenyamanan Bekerja

Wednesday, November 7, 2012

PADA umumnya orang yang bekerja di kantor menghabiskan lebih banyak waktunya dengan duduk dan menghadapi komputer. Suatu hal yang dilakukan secara rutin selama bertahun-tahun itu pastilah menimbulkan kejenuhan. Namun di sisi lain, tuntutan beban kerja sering kali membuat seorang karyawan tak bisa mengambil jeda, dan tanpa sadar waktu pun berlalu dengan cepat.
Para desainer interior pun lalu berusaha membuat mebel yang sedemikian rupa hingga segala gerak tubuh yang banyak dilakukan di kantor, seperti duduk, berdiskusi, rapat, kegiatan mengetik dan menulis, bisa terakomodasi dengan maksimal. Maka, lahirlah konsep ergonomik yang pada intinya merupakan bentuk mebel sedemikian rupa yang mampu menopang tubuh seseorang hingga merasa nyaman.
"Di sini fungsi yang lebih diutamakan, baru kemudian desain mengikuti fungsi tersebut. Kesadaran ini di Jerman misalnya, sudah muncul sekitar tahun 1920-an. Orang juga tidak lagi melihat mebel dari kesamaan bentuk secara keseluruhan. Di sini yang penting mebel itu tidak mahal, fungsional, dan enak untuk digunakan," tutur sarjana arsitektur dari Technische Universitat Braunschweig Jerman ini.
Meski enak digunakan, konsep ergonomik untuk mebel kantor pun disesuaikan dengan suasana kerja yang memang harus dilakukan orang di tempat itu. "Nikmat di sini bukan berarti kursi yang empuk sekali, dan bentuknya bisa membuat tubuh kita masuk ke dalamnya seperti duduk di sofa santai sambil nonton televisi. Kalau kursi semacam itu memang enak untuk duduk, tetapi bukan dimaksudkan guna kegiatan kerja," ujarnya.
Kursi untuk bekerja dengan konsep ergonomik adalah bentuk mebel yang bisa menopang punggung, pantat, sampai kemiringan tubuh sedemikian rupa setiap kali tubuh kita perlu bergerak untuk menunjang kerja. Misalnya, kursi itu tetap enak walau tangan kita harus meraih sesuatu di laci," kata Eddy Utoyo.
OLEH karena kebutuhan itulah, maka kursi kerja dengan konsep ergonomik bisa dikatakan tetap nyaman dipakai meski orang itu harus duduk bekerja selama empat jam terus-menerus. Artinya, bila kurang dari waktu itu kursi terasa tidak nyaman, bisa berarti mebel tersebut kurang sesuai dengan bentuk tubuh dan kebutuhan gerak orang tersebut.
Makanya, sebuah kursi yang dikatakan nyaman oleh orang Eropa belum tentu cocok untuk orang Indonesia. Konsep ergonomiknya yang digunakan, namun ukuran, kemiringan, maupun bahan baku yang dipakai haruslah disesuaikan dengan skala tubuh dan kondisi di negara masing-masing. "Secara garis besar skala orang Eropa dan orang Indonesia kan berbeda, maka untuk menyesuaikannya dipasang juga berbagai macam ukuran untuk bagian kaki misalnya," ucap Eddy Utoyo.
Selain itu, kesadaran akan perbedaan keperluan tubuh masing-masing orang juga melahirkan alat mekanisme pada kursi yang memungkinkannya bersifat lebih lentur. Artinya, sandaran kepala, sandaran punggung, sandaran tangan, dan ketinggian dudukan bisa diatur sedemikian rupa menyesuaikan dengan keinginan si pemakai.
Konsep ergonomik tak hanya digunakan untuk kursi, tetapi juga pada meja. Belakangan ini semakin berkembang bentuk meja kerja yang tidak sekadar empat persegi panjang, namun dihitung benar kemiringan dan kebulatannya sesuai dengan kebutuhan pekerjaan pemakainya.
"Kalau dulu orang tak mengenal komputer, dan mesin ketik bisa diletakkan begitu saja di atas meja, maka belakangan ini diperlukan bagian tersendiri untuk meletakkan keyboard misalnya. Bagian ujung-ujung meja juga lebih bervariasi. Misalnya, meja untuk seorang sekretaris memerlukan kelengkungan tersendiri agar dia bisa dengan mudah mencapai lemari atau laci penyimpan dan pesawat telepon,"ujar Eddy menambahkan.
Bahan yang digunakan untuk permukaan meja juga lebih beragam, misalnya kulit, atau kaca untuk jenis pekerjaan yang memerlukan tempat untuk memotong sesuatu. Ruang kantor yang cenderung menggunakan alat pendingin juga mempengaruhi pemilihan bahan baku interior kantor. Contohnya, penggunaan kayu, kulit dan warna natural yang berkesan hangat.
Pemilihan interior kantor yang tidak mempertimbangkan konsep ergonomik, menurut Eddy Utoyo, bisa mempengaruhi produktivitas kerja seseorang. Alasannya, interior tanpa konsep ergonomik akan membuat pemakainya merasa cepat lelah. Oleh karena itulah penting dipertimbangkan gerakan apa saja yang banyak dilakukan karyawan, sebelum memutuskan memilih interior ruang kerjanya.
"Contohnya, kursi untuk seorang kasir di pasar swalayan pasti berbeda kebutuhan bentuk dan ukurannya dengan kursi untuk seorang sekretaris," kata Eddy Utoyo menambahkan. (CP)
(bid/berbagai sumber)

Share on :

0 comments:

Post a Comment

 
 
 

Total Pageviews